Minggu, 20 Maret 2011

contoh laporan klomatologi angin dan awan

LAPORAN PRAKTIKUM KLIMATOLOGI

“ANGIN dan KEAWANAN”

(Acara V & VI)
logo Unib
Oleh :
Nama                                     : Venny Novia Utami Putri
NPM                                      : E1B009049
Hari/tanggal                       : Rabu/1 Desember 2010
Co.Ass.                                  :
                                                  

FAKULTAS PERTANIAN
PROGRAM STUDI BUDI DAYA HUTAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2010

I.PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Awan adalah kumpulan titik-titik air dan atau es yang melayang-layang di atmosfer sebagai hasil proses kondensasi yang terdapat pada ketinggian tertentu yang disebabkan karena naiknya udara secara vertikal karena proses pendinginan udara secara adiabatik di atmosfer. Awan bersifat mengabsorsi dan merefleksikan radisi surya dan radiasi dari bumi dapat memanaskan atau mendinginkan suhuudara. Bentuk awan dengan kharateristiknya juga mencerminkan potensi hujan disuatu daerah di permukaan bumi.
           Dalam proses pembentukan awan tidak terlepas dari proses kondensasi yaitu perubahan dari uap air menjadi butir-butir atau es, dan kondensasi ini terjadi karena pendinginan udara. Jika udara mengalami pendinginan maka kapasitasnya untuk menampung uap air menurun dan paada suatu titik penurunan suhu udara ini menyebabkan udara kenyang atau jenuh (RH = 100%). Suhu pada saat kenyang disebut suhu titik embun.
               Jika suhu udara turun hingga di bawah titik embun maka udara tidak mampu menampung uap air keluar sebagai titik air dan atau es.Jadi pengembunan sangat ditentukan oleh RH dan suhu. Jika RH tinggi diperlukan sedikit penurunan suhu hingga terjadi penurunan suhu hingga terjadi pengembunan, sebaliknya RH rendah diperlukan banyak penurunan suhu udara untuk terjadinya pengembunan.
Angin merupakan sumber daya alam yang tidak dapat habis yang bergerak kapan saja apa bila massa udara di permukaan bumi memilki tekanan yang berbeda-beda oleh karena factor tekanan yang bersuhu tinggi dengan tekanan yang bersuhu rendah.
Pentingnya angin bagi kehidupan manusia membuat para ilmuwan dan pelajar mempelajari serta mengamati pergerakan angin dan danpaknya bagi aktifitas manusia kehususnya bagi para petani. dalam klimatologi angin diamati dalam kecepatan dan arahnya. Kecepatan angin adalah jarak tempuh massa udara yang bergerak tersebut dalam waktu tertentu; jadi satuannya adalah jarak perwaktu seperti meter per detik, kilometer per jam. sedang arah angin merupakan arah datangnya angin. Misalnya angin barat adalah yang bertiup dari barat.

2.1 Tujuan
1.       Memberikan pengertian tentang pergerakan massa udara pada berbagai tempat.
2.       Untuk mengetahui macam-macam bentuk awan.
3.       Untuk memberikan pengertian kemungkinan terjadinya hujan dengan melihat kondisi cuaca                        beberapa waktu sebelumnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


2.1 PEMBENTUKAN AWAN
Udara selalu mengandung uap air. Apabila uap air ini meluap menjadi titik-titik air, maka terbentuklah awan. Peluapan ini bisa terjadi dengan dua cara:
q  Apabila udara panas, lebih banyak uap terkandung di dalam udara karena air lebih cepat menyejat. Udara panas yang sarat dengan air ini akan naik tinggi, hingga tiba di satu lapisan dengan suhu yang lebih rendah, uap itu akan mencair dan terbentuklah awan, molekul-molekul titik air yang tak terhingga banyaknya.
q  Suhu udara tidak berubah, tetapi keadaan atmosfir lembap. Udara makin lama akan menjadi semakin tepu dengan uap air.
Apabila awan telah terbentuk, titik-titik air dalam awan akan menjadi semakin besar dan awan itu akan menjadi semakin berat, dan perlahan-lahan daya tarik bumi menariknya ke bawah. Hingga sampai satu titik dimana titik-titik air itu akan terus jatuh ke bawah dan turunlah hujan.
Namun jika titik-titik air tersebut bertemu udara panas, titik-titik itu akan menguap dan hilanglah awan itu. Inilah yang menyebabkan itu awan selalu berubah-ubah bentuknya. Air yang terkandung di dalam awan silih berganti menguap dan mencair. Inilah juga yang menyebabkan kadang-kadang ada awan yang tidak membawa hujan. http://www.wikimediafoundation.org/

 2.2 BENT UK-BENTUK AWAN
Bentuk awan bermacam macam tergantung dari keadaan cuaca dan ketinggiannya. Tapi bentuk utamanya ada tiga jenis yaitu, yang berlapis-lapis dalam bahasa latin disebut stratus, yang bentuknya berserat-serat disebut cirrus, dan yang bergumpal-gumpal disebut cumulus (ejaan Indonesia: stratus, sirus, dan kumulus).
Di daerah rendah (kurang dari 3.000 m) yang terendah, awan stratus menutupi puncak gunung yang tidak terlalu tinggi. Di daerah rendah tengah, awan berbentuk strato-kumulus, dan yang dekat ketinggian 3.000 m awan berbentuk kumulus. Awan besar dan tebal di daerah rendah disebut kumulo-nimbus berpotensi menjadi hujan, menyebabkan terjadinya guruh dan petir.
Bagaimana dengan awan di daerah tinggi (di atas 6.000 m)? Di sana terbentuk awan siro-stratus yang tampak sebagai teja di sekitar matahari atau bulan. Juga terbentuk awan siro-kumulus yang bentuknya berkeping keping terhampar luas. Juga dapat terbentuk awan sirus yang tipis bertebar seperti asap. mailto:doni@gramacom.co.id

2.3 JENIS-JENIS AWAN
a)      Stratus
Letaknya rendah, berwarna abu-abu dan pinggirnya bergerigi dan menghasilkan hujan gerimis salju.
b)     Kumulus
Letaknya rendah, tidak menyatu / terpisah-pisah. Bagian dasarnya berwarna hitam dan di atasnya putih. Awan ini biasanya menghasilkan hujan
c)      Stratokumulus
Letaknya rendah, berwarna putih atau keabua-abuan. Bentuknya bergelombang dan tidak membawa hujan.
d)     Kumulonimbus
Letaknya rendah sperti menara, berwarna putih dan hitam, membawa badai.
e)      Nimbostratus
Letaknya tidak terlalu tinggi, gelap, lapisannya pekat, bagian bawah bergerigi serta membawa hujan atau salju.
f)       Altostratus
Ketinggian sedang, awan berwarna keabu-abuan, tipis, mengandung hujan.
g)      Altokumulus
Ketinggian sedang, putih atau abu-abu, bergulung-gulung atau melingkar seperti makaroni.
h)     Sirus
Tinggi, putih atau sebagian besar putih seperti sutra tipis, bergaris-garis
i)        Sirostratus
Tinggi, putih seperti cadar, bisa juga seperi untaian, luas menutupi langit
j)        Sirokumulus
Tinggi, tebal, putih, terpecah-pecah, mengandung butir-butir es kecil.
2.4 KETINGGIAN AWAN
Berikut ini adalah ketinggian jenis awan utama yang diukur dari bagian dasar
q  Stratus, di bawah 450 m
q  Kumulus, Stratokumulus dan Kumulonimbus berada di ketinggian 450 - 2000 m
q  Nimbostratus, 900 - 3000 m
q  Altostratus dan Altokumulus berada di ketinggian 2000 - 7000m
q  Sirus, Sirostratus dan Sirokumulus berada di ketinggian 5000 - 13.500 m

Misalnya di atas Gunung Ciremai (3.078 m), di puncak-puncak pegunungan Jaya Wijaya di Irian yang tingginya antara 4.000-5.000 m, bahkan selalu diliputi salju. Demikian juga Gunung Fuji (3.776 m) puncaknya selalu diliputi salju putih cemerlang sangat indah. Pada ketinggian menengah ini dapat terbentuk awan alto-stratus yang berderet-deret, alto kumulus, dan alto-sirus. http://id.wikipedia.org/wiki/awan


















                                          


2.5 PENGERTIAN ANGIN
Angin yaitu udara yang bergerak yang diakibatkan oleh rotasi bumi dan juga karena adanya perbedaan tekanan udara(tekanan tinggi ke tekanan rendah) di sekitarnya. Angin merupakan udara yang bergerak dari tekanan tinggi ke tekanan rendah atau dari suhu udara yang rendah ke suhu udara yang tinggi. http://perpustakaan-online.blogspot.com/2008/05/angin.html

Meskipun pada kenyataan angin tidak dapat dilihat bagaimana wujudnya, namun masih dapat diketahui keberadaannya melalui efek yang ditimbulkan pada benda – benda yang mendapat hembusan angin. Seperti ketika kita melihat dahan – dahan pohon bergerak atau bendera yang berkibar kita tahu bahwa ada angin yang berhembus. Dari mana angin bertiup dan berapa kecepatannya dapat diketahui dengan menggunakan alat – alat pengukur angin.

2.6 SIFAT ANGIN
Apabila dipanaskan, udara memuai. Udara yang telah memuai menjadi lebih ringan sehingga naik. Apabila hal ini terjadi, tekanan udara turun kerena udaranya berkurang. Udara dingin disekitarnya mengalir ke tempat yang bertekanan rendah tadi. Udara menyusut menjadi lebih berat dan turun ke tanah. Diatas tanah udara menjadi penas lagi dan naik kembali. Aliran naiknya udara panas dan turunnya udara dingin ini dinamanakan konveksi. http://perpustakaan-online.blogspot.com/2008/05/angin.html

2.7 TERJADINYA ANGIN
Angin terjadi karena adanya perbedaan tekanan udara atau perbedaan suhu udara pada suatu daerah atau wilayah. Hal ini berkaitan dengan besarnya energi panas matahari yang di terima oleh permukaan bumi. Pada suatu wilayah, daerah yang menerima energi panas matahari lebih besar akan mempunyai suhu udara yang lebih panas dan tekanan udara yang cenderung lebih rendah. Perbedaan suhu dan tekanan udara akan terjadi antara daerah yang menerima energi panas lebih besar dengan daerah lain yang lebih sedikit menerima energi panas, yang berakibat akan terjadi aliran udara pada wilayah tersebut.

Angin memiliki hubungan yang erat dengan sinar matahari karena daerahyang terkena banyak paparan sinar mentari akan memiliki suhu yang lebih tinggi serta tekanan udara yang lebih rendah dari daerah lain di sekitarnya sehingga menyebabkan terjadinya aliran udara. Angin juga dapat disebabkan oleh pergerakan benda sehingga mendorong udara di sekitarnya untuk bergerak ke tempat lain.
Angin buatan dapat dibuat dengan menggunakan berbagai alat mulai dari yang sederhana hingga yang rumit. Secara sederhana angin dapat kita ciptakan sendiri dengan menggunakan telapak tangan, kipas sate, koran, majalah, dan lain sebagainya dengan cara dikibaskan. Sedangkan secara rumit angin dapat kita buat dengan kipas angin listrik, pengering tangan, hair dryer, pompa ban, dan lain sebagainya. Secara alami kita bisa menggunakan mulut, hidung, lubang dubur, dan sebagainya untuk menciptakan angin. http://perpustakaan-online.blogspot.com/2008/05/angin.html
Udara dapat membawa partikel bau dari suatu zat sehingga angin dapat membawa bau atau aroma mulai dari aroma yang sedap hingga aroma yang tidak sedap di hidung kita. Bau masakan, bau amis, bau laut, bau sampah, bau bensin, bau gas, bau kentut, bau kotoran, dan lain sebagainya adalah beberapa contoh bau yang dapat dibawa angin. http://organisasi.org/blog-gratis-bahasa-indonesia-untuk-anda-ngeblog-yuk

2.8 ALAT-ALAT UNTUK MENGUKUR ANGIN ANTARA LAIN:
Ö Anemometer, adalah alat yang mengukur kecepatan angin.
Ö Wind vane, adalah alat untuk mengetahui arah angin.
Ö Windsock, adalah alat untuk mengetahui arah angin dan memperkirakan besar kecepatan angin. Yang biasanya banyaditemukan di bandara – bandara.

2.9 JENIS ANGIN
Angin secara umum diklasifikasikan menjadi 2 yaitu angin lokal dan angin musim.
*      Angin lokal 3 macam yaitu :
                   I.            Angin darat dan angin laut Angin ini terjadi di daerah pantai.
Angin laut terjadi pada siang hari daratan lebih cepat menerima panas dibandingkan dengan lautan. Angin bertiup dari laut ke darat. Sebaliknya, angin darat terjadu pada malam hari daratan lebih cepat melepaskan panas dibandingkan dengan lautan. Daratan bertekanan maksimum dan lautan bertekanan minimum. Angin bertiup dari darat ke laut.
                II.            Angin lembah dan angin gunung
Pada siang hari udara yang seolah-olah terkurung pada dasar lembah lebih cepat panas dibandingkan dengan udara di puncak gunung yang lebih terbuka (bebas), maka udara mengalir dari lembah ke puncak gunung menjadi angin lembah. Sebaliknya pada malam hari udara mengalir dari gunung ke lembah menjadi angin gunung.
             III.            Angin Jatuh yang sifatnya kering dan panas
Angin Fohn atau Angin jatuh ialah angin jatuh bersifatnya kering dan panas terdapat di lereng pegunungan Alpine. Sejenis angin ini banyak terdapat di Indonesia dengan nama angin Bahorok (Deli), angin Kumbang (Cirebon), angin Gending di Pasuruan (Jawa Timur), dan Angin Brubu di Sulawesi Selatan).
*      Angin musim ada 5 macam yaitu :
                   I.            Angin Passat
Angin passat adalah angin bertiup tetap sepanjang tahun dari daerah subtropik menuju ke daerah ekuator (khatulistiwa). Terdiri dari Angin Passat Timur Laut bertiup di belahan bumi Utara dan Angin Passat Tenggara bertiup di belahan bumi Selatan. Di sekitar khatulistiwa, kedua angin passat ini bertemu. Karena temperatur di daerah tropis selalu tinggi, maka massa udara tersebut dipaksa naik secara vertikal (konveksi). Daerah pertemuan kedua angin passat tersebut dinamakan Daerah Konvergensi Antar Tropik (DKAT). DKAT ditandai dengan temperatur yang selalu tinggi. Akibat kenaikan massa udara ini, wilayah DKAT terbebas dari adanya angin topan. Akibatnya daerah ini dinamakan daerah doldrum (wilayah tenang).
                II.             Angin Anti Passat
Udara di atas daerah ekuator yang mengalir ke daerah kutub dan turun di daerah maksimum subtropik merupakan angin Anti Passat. Di belahan bumi Utara disebut Angin Anti Passat Barat Daya dan di belahan bumi Selatan disebut Angin Anti Passat Barat Laut. Pada daerah sekitar lintang 20o - 30o LU dan LS, angin anti passat kembali turun secara vertikal sebagai angin yang kering. Angin kering ini menyerap uap air di udara dan permukaan daratan. Akibatnya, terbentuk gurun di muka bumi, misalnya gurun di Saudi Arabia, Gurun Sahara (Afrika), dan gurun di Australia.
Di daerah Subtropik (30o – 40o LU/LS) terdapat daerah “teduh subtropik” yang udaranya tenang, turun dari atas, dan tidak ada angin. Sedangkan di daerah ekuator antara 10o LU – 10o LS terdapat juga daerah tenang yang disebut daerah “teduh ekuator” atau “daerah doldrum”
             III.            Angin Barat
Sebagian udara yang berasal dari daerah maksimum subtropis Utara dan Selatan mengalir ke daerah sedang Utara dan daerah sedang Selatan sebagai angin Barat. Pengaruh angin Barat di belahan bumi Utara tidak begitu terasa karena hambatan dari benua. Di belahan bumi Selatan pengaruh angin Barat ini sangat besar, tertama pada daerah lintang 60o LS. Di sini bertiup angin Barat yang sangat kencang yang oleh pelaut-pelaut disebut roaring forties.
             IV.            Angin Timur
Di daerah Kutub Utara dan Kutub Selatan bumi terdapat daerah dengan tekanan udara maksimum. Dari daerah ini mengalirlah angin ke daerah minimum subpolar (60o LU/LS). Angin ini disebut angin Timur. Angin timur ini bersifat dingin karena berasal dari daerah kutub.
                V.            Angin Muson (Monsun)
Angin muson adalah angin yang berhembus secara periodik (minimal 3 bulan) dan antara periode yang satu dengan yang lain polanya akan berlawanan yang berganti arah secara berlawanan setiap setengah tahun. Umumnya pada setengah tahun pertama bertiup angin darat yang kering dan setengah tahun berikutnya bertiup angin laut yang basah. Pada bulan Oktober – April, matahari berada pada belahan langit Selatan, sehingga benua Australia lebih banyak memperoleh pemanasan matahari dari benua Asia. Akibatnya di Australia terdapat pusat tekanan udara rendah (depresi) sedangkan di Asia terdapat pusat-pusat tekanan udara tinggi (kompresi). Keadaan ini menyebabkan arus angin dari benua Asia ke benua Australia. Di Indonesia angin ini merupakan angin musim Timur Laut di belahan bumi Utara dan angin musim Barat di belahan bumi Selatan. Oleh karena angin ini melewati Samudra Pasifik dan Samudra Hindia maka banyak membawa uap air, sehingga pada umumnya di Indonesia terjadi musim penghujan. (Busri dan Syamsu, 2000)


Musim penghujan meliputi seluruh wilayah indonesia, hanya saja persebarannya tidak merata. makin ke timur curah hujan makin berkurang karena kandungan uap airnya makin sedikit.
Pada bulan April-Oktober, matahari berada di belahan langit utara, sehingga benua asi lebih panas daripada benua australia. Akibatnya, di asia terdapat pusat-pusat tekanan udara rendah, sedangkan di australia terdapat pusat-pusat tekanan udara tinggi yang menyebabkan terjadinya angin dari australia menuju asi. Di indonesia terjadi angin musim timur di belahan bumi selatan dan angin musim barat daya di belahan bumi utara. Oleh kerena tidak melewati lautan yang luas maka angin tidak banyak mengandung uap air oleh karena itu pada umumnya di indonesia terjadi musim kemarau, kecuali pantai barat sumatera, sulawesi tenggara, dan pantai selatan irian jaya. Antara kedua musim tersebut ada musim yang disebut musim pancaroba (peralihan), yaitu : Musim kemareng yang merupakan peralihan dari musim penghujan ke musim kemarau, dan musim labuh yang merupakan peralihan musim kemarau ke musim penghujan. Adapun ciri-ciri musim pancaroba yaitu: Udara terasa panas, arah angin tidak teratur dan terjadi hujan secara tiba-tiba dalam waktu singkat dan lebat. http://perpustakaan-online.blogspot.com/2008/05/angin.html























BAB III
METODOLOGI

3.1 ALAT DAN BAHAN KEAWANAN
Adapun bahan yang akan dipakai untuk membantu proses pengamatan adalah sebagai berikut ;
q  Anemometer dandvan
q  Termometer dan hygrometer
q  Barometer
q  Kertas
q  Pensil dan penggaris

3.2 PROSEDUR KERJA KEAWANAN
q  Mengamati keadaan keawanan sejak pagi hari mulai matahari terbit hingga hampir terbenam
q  Menyalin dan mengamatai poses pembentukan keawanan serta unsur-unsur lain, yaitu jarak pandang, suhu udar, kelembapan udara, tekanan udara, dan arah serta kecepatan angin.
q  Mengamati setiap unsur-unsur yang ada pada awan setiap jam.
q  Pengamtan dilakukan secra bebas, baik secara kelompok maupun secra individu.
q  Mencatat apabila terjadi kemungkinan datangnya hujan. memperkirakan berapa luas dan lamanya hujan membasahi permukaan bumi.





3.3  BAHAN DAN ALAT ANGIN
Adapun bahan yang akan dipakai untuk membantu proses pengamatan adalah sebagai berikut ;
q  Kertas Pengamatan
q  Pensil dan Penghapus
q  Kayu Bakaran
q  Bendera
q  dan Tumbuhan Sekitar Pekarangan
3.4 PROSEDUR KERJA ANGIN
q  Menyiapkan beberapa alat sesuai yang tercamtum diatas.
q  Untuk mengetahui arah angin dapat membakar sebuah kayu. Ketika api sudah menyala lalu dipadankan karena pada pengamatan ini asap dari bakaran dapat membantu arah angin bila angin bergerak bersekala kecil.
q  Menggunakan bendera untuk mengamti arah angin dan kecepatan angin bila bersekala sedang
q  Mengamati pepohonan bila angin bersakala besar.
q  pengamtan dilakukan setiap jam.
q  mencatat hasil yang diperoleh dari alat-alat pendukung pengamtan arah dan kecepatan angin.








V. HASIL DAN PENGAMATAN
Hari yang baik untuk mengamati proses pergerakan awan selama12 jam adalah diawali dengan cuaca mendung dan kemudian di akhiri dengan awan tertutup Dari pengamatan yang dilakukan maka penulis menyajikan dalam bentuk table sebagai berikut :
Lokasi : Sawah Lebar.   tgl: Minggu,5 Desember 2010

Awan
Angin
Pukul
Simbol
Kodifikasi
Deskripsi
Nama awan
Arah Angin
Kecepatan
(beaufort)
06:00 wib
s/d
08:00 wib

7/8

Hampir Tertutup

Cirrus cnnoulus

-

0-0,2 m/s
08:00 wib
s/d
10:00 wib
       
        2/8


Sedikit Berawan

Stratus

-

1,6-3,3 m/s
10:00 wib
s/d
12:00 wib

3/8

Agak berawan

Stratus cumulus

Dari Laut

3,4-5,4 m/s
12:00 wib
s/d
14:00 wib

6/8

Sangat
berawan

cumulus

Dari Laut

8,0-10,7 m/s
14:00 wib
s/d
16:00 wib

7/8

Hampir tertutup

Cumulus

Dari Laut

10,8-13,8 m/s
16:00 wib
s/d
18:00 wib

8/8

tertutup

nimbostratus

Dari Darat

1,6-3,3 m/s


VI.PEMBAHASAN

     6.1 KEAWANAN
Pengamatan dilakukan di sekitar tempat tinggal penulis yaitu di halaman rumah Sawah Lebar No 33 RT 24 RW 007 Kecamatan Muara Ratu Agung Kota Bengkulu. Pengamatan dilakukan selama dua jam berturut-turut mulai dari pukul 06.00 sampai pukul 18.00 WIB sesuai dengan ketentuan yang diterapkan. Dari hasil pengamatan yang diperolah penulis yaitu yang tercamtum pada bab empat, maka penulis mencoba membahas beberapa hal yang terpenting mengenai proses terbentuknya awan serta pergerakannya.
Terbentuknya awan adalah pada saat penyinaran panjang matahari kepermukaan bumi yang menyebabkan terjadinya pengupan disekitar permukaan bumi yang membentuk partikel-pertikel kecil yang akan naik keudara membentuk awan. Awan sifatnya tidak tetap, awan akan bergerak kemana saja seiring dengan pergerakan angin. Karenan pengaruh angin maka terbentuklah jenis-jenis awan menerut bentuk yang diciptakan oleh angin. Oleh sebab itu angin sangat berperan aktip untuk menentukan apakah akan terjadi hujan atau tidak, sebab awan dikatakan akan hujan bila awan membentuk gumpala-gumpalan besar yang disusun atau yang dipertemukan oleh angin dari awan yang satu dengan awan yang lain.  Perlu diketahui bahwa Penyebaran awan biasanya identik dengan penyebaran hujan yaitu kawasan yang tinggi terjadi di ekuator karena merupakan wilayah konvergensi udara dan kuatnya radiasi surya dan terendah di wilayh subtropika sekitar 20o -30o lintang bumi karena merupakan wilayah disvergensi. Keawanan maksimum biasanya siang hingga sore hari minimum malam hari ketika udara stabil. Keawanan ini terjadi pada pagi hari ketika kabut naik yang banyak terjadi di daerah yang lembab dan danau. Keawanan  terbesar terdapat diwilayah sekitar lintang  60o lintang bumi (lintang pertengahan) karena wilayah ini merupakn pertemuan massa udara yang hangat dan lembab dari lintang rendah dengan massa udara dingin dari wilayah kutub.
Awan juga dapat membentuk energy petir. Energy petir terjadi ketika terjadinya gesekan hebat antara awan yang satu dengan awan yang lain karena factor perbedaan tekanan udara. Selain hujan yang dihasilkan oleh awan, awan juga dapat menghasilkan butiran-butiran halus es atau yang disebut dengan salju. Salju dapat terjadi ketika suhu udara dibawa 0.

6.2 ANGIN

Dari hasil pengamatan yang diperolah penulis yaitu yang tercamtum pada bab empat maka penulis mencoba membahas beberapa hal yang terpenting mengenai arah dan kecepatan angin menurut sekala beaufort serta menfaatnya bagi kehidupan manusia.
Angin merupakan hal terpenting dalam bidang pertanian, sebab angin sangat mempengaruhi musim. Angin juga dapat membantu proses perkawinan yaitu dimana serbuksari akan diterbangkan kekepala putik. Proses terjadinya pergerakan angin dipengaruhi oleh karena adanya tekanan udara yang berbeda, yaitu antara suhu udara yang tinggi bergerak ke suhu yang lebih rendah. Angin juga dapat menentukan kapan terjadinya hujan dan juga mengumpulkan awan-awan yang ada menjadi sebuah awan yang bergumpal (padat) atau pergerakan angin seiring dengan pergerakan awan. Angin merupakan udara yang bergerak secara horizontal dari suatu daerah bertekanan tinggi ke daerah bertekanan rendah. Udara yang bergerak secara vertikal biasanya tidak disebut angin melainkan gerakan udara sedangkan udara bergerak berputar disebut turbulensi. Penyebab utama perbedaan tekanan udara adalah perbedaan pemanas dan pendingin atau suhu pada tempat-tempat di permukaan bumi.
Angin berfungsi sebagai : pemindahan panas, pemindahan uap air, awan dan pemindahan bahan-bahan atau partikel yang ada di udara seperti debu, spora, tepung sari dll. Angin mempunyai energi, oleh karena itu dapat dimanfaatkan untuk pelayaran, pergerakan kipas dll. Ada kalanya angin berkecepatan tinggi disebut badai dapat menimbulkan kerusakan bangunan, tumbangnya pohon-pohon, erosi, mengganggu pelayaran dan penebangan. pada praktikum kali ini penulis diajak untuk  memahami siklus udara dan proses terbentuknya udara serta manfaatnya bagi manusia .  Selain itu penulis juga merenungkan bahwa sempurnanya keuasa Tuhan yang menciptakan alam dan prangkatnya semua disusun secara sitemamatis menjadi sumber kebutuhan manusia.








BAB VII
PENUTUP

6.1 KESIMPULAN
q  Awan terbentuk karena terjadinya pengupan dipermukaan bumi yang membentuk molekul-molekul kecil, karena pengaruh massa jenis lebih rendah maka naik ke permukaan atmosfir membentuk gumpalan yaitu awan.
q  Terjadinya hujan dipengaruhi oleh pergerakan angin serta suhu udara disekitar permukaan bumi.
q  Pergerakan awan seiring dengan pergarakan angin, karena factor cepat lambatnya pergerakan angin maka terbentuklah jenis-jenis awan menurut gerak angin.
q  Angin dikatakan bergerak apabila tekanan udara berbeda dalam artian suhu udara dipermukaan bumi adalah yang menentukan terjadinya pergerakan awan.
q  Pergerakan angin berubah-ubah setiap waktunya dalam artian tidak semua kecepatan angin sama atau bisa saja sama kecepatan apa bila tidak di pengaruihi oleh perbedaan suhu panas dan suhu dingin.
q  Kecepatan angin dapat kita perhatikan dengan fenomena alam yaitu seperti pergerakan ranting pohon dan burung di udara.
q  Kecepatan angin dapat membantu manusia untuk menentukan terjadinya hujan, atau biasanya angin yang kencang dapat membawa partikel-pertikel dari suatu tempat ketempat lain.

 











DAFTAR PUSTAKA


Daldjuni.1993.Pokok – pokok klimatologi.penerbit Alumni.Bandung
         Hasan .U.M.1970. Dasar–dasar Meterologi Pertanian.Pt.soeroengan.Jakarta
Handoko,1993,Klimatologi Dasar,Institut Pertanian Bogor,Bogor.

            Nur muin, S, 2008. Penuntun Praktikum Agroklimatologi, Universitas Bengkulu
            Saleh,B dan Nur,M.S,2000,Bahan Ajar Perkuliahan Dasar-Dasar Klimatologi  Universitas Bengkulu,Bengkulu

Jumat, 18 Maret 2011

contoh laporan klimatologi- radiasi surya





LAPORAN KLIMATOLOGI
RADIASI SURYA
ACARA II




UNIB





OLEH :
                       NAMA                         :  VENNY NOVIA UTAMI PUTRI
                      NPM                             :  E1B009049
                      KEL                              :  3 (TIGA)
                      CO-ASISTEN              :   NOVA SAMOSIR
                                                              GATRA BAYU







PRODI KEHUTANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2010
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
  Radiasi surya merupakan sumber energi utama kehidupan di muka bumi ini. Setiap waktu hampir terjadi perubahan penerimaan energi radiasi surya yang dapat mengaktifkan melekul gas atmosfer sehingga terjadilah pembentukan cuaca. Iklim adalah keadaan unsur cuaca rata-rata dalam waktu yang relatif panjang, dengan unsur-unsur sebagai berikut: radiasi surya, suhu udara, kelembaban nisbi udara, tekanan udara, angin, curah hujan, evapotranspirasi dan keawanan.
Radiasi surya merupakan unsur iklim/cuaca utama yang akan mempengaruhi keadaan unsur iklim/cuaca lainnya. Perbedaan penerimaan radiasi surya antar tempat di permukaan bumi akan menciptakan pola angin yang selanjutnya akan berpengaruh terhadap kondisi curah hujan, suhu udara, kelembaban nisbi udara, dan lain-lain.
          Radiasi matahari sejak dulu sampai sekarang tak habis-habis dibicarakan dan ditulis. Dahulu yang sangat populer dibahas mengenai iklim dan pengunaan untuk pemanasan/mengeringkan, penguapan dan pencahayaan alami dalam bangunan di siang hari.
Sekarang tidak hanya permasalahan itu saja, tapi sudah sangat berkembang, seperti berkaitan dengan permasalahan cuaca, atmosfir, pertanian, kehutanan, perikanan, peternakan, pengairan, lingkungan hidup, kesehatan, bangunan, kesehatan dan berbagai kegunaan yang sangat praktis. Orang juga mempelajari ketersediaan radiasi matahari dengan berbagai cara dan pemodelan.
Berbicara mengenai model pada radiasi matahari yang dibahas disini adalah model matematis. Model matematis yang disusun diharapkan: Pertama, Model lebih baik dari model terdahulu, baik untuk menghitung radiasi pada langit bening maupun keadaan langit sembarang di berbagai tempat (lintang dan bujur). Kedua, Model yang disusun, mudah dibuat dengan program ecxel, yang telah tersedia pada komputer. Ketiga, Model dapat dengan mudah dipakai para pemakai dan para perancang alat untuk memperkirakan ketersediaan radiasi matahari baik sebagai sumber energi atau alat/bahan pelindung radiasi matahari yang menimpa benda tersbut, baik secara langsung maupun tak langsung.
Bila model tidak ada, maka harapan/keinginan tersebut tidak dapat terlaksana. Berdasarkan keadaan tersebut, disusun model matematis radiasi matahari langit bening dan keadaan langit sembarang 15 LU – 15 LS.
Catatan: Bila yang dibicarakan mengenai “radiasi yang dipancarkan”, disebut “radiasi matahari”. Bila yang dibicarakan mengenai “sumber yang memancarkan radiasi matahari” disebut “surya”.

1.2 TUJUAN
Menentukan intensitas radiasi dan lama penyinaran surya pada satu hari. Menghitung data intensitas dan lama penyinaran surya untuk periode selama satu bulan dan memperkirakan fluktuasi tahunannya.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.    Pengertian. Radiasi surya adalah pancaran energi yang berasal dari proses thermonuklir yang terjadi di matahari. Ada beberapa radiasi solar, yang terpenting: radiasi elektromagnetik (yg berhubungan dengan listrik dan magnet).
Radiasi elektromagnetik bisa dibedakan,

1. radiasi yang terlihat oleh mata kita (visible radiation) (cahaya)
2. radiasi yang dapat kita rasakan (kulit, wajah), namanya radiasi infra merah.
panjang gelombang radiasi inframerah lebih panjang daripada panjang gelombang cahaya (visible radiation)
Gelombang elektromagnetik menyebar dalam bentuk 3 dimensi (volumen), seperti halnya gelombang yang tersebar membentuk sebuah bola (esfera).
Dalam hal ini, volumen di sekitar gelombang elektromagnetik bisa berbentuk: benda keras, cairan, gas, tapi bisa juga kekosongan (vacuum).
Radiasi matahari yang diterima oleh bumi kita (energi matahari) akan diterima dengan cara sebagai berikut,
1. Diserap oleh aerosol* & awan di atmosfer bumi yang akhirnya menjadi panas. Radiasi yang terserap ini menyebabkan naiknya temperatur gas-gas dan aerosol-aerosol. aerosol= kumpulan cairan kecil atau partikel-partikel solid yang menyebar dalam suatu gas, seperti uap air di atmosfir, debu-debu angkasa, etc.
2. Ditangkis oleh atmosfer (oleh gas2 dan aerosol-aerosol), dalam hal ini radiasi ditangkis dan disebarkan ke segala penjuru. Sebagian radiasi menuju kembali ke angkasa, sebagian sampai ke permukaan bumi.


Penangkisan dan penyerapan radiasi bisa terjadi di segala lapisan atmosfir, yang paling sering lapisan bawah di mana massa atmosfir lebih terkonsentrasi.
3. Radiasi yang tidak tertangkis maupun terserap oleh atmosfir, sampai ke permukaan bumi. Karena bumi sangat padat, maka radiasi ini bukan ditangkis, melainkan dikembalikan satu arah ke atmosfir (proses ini biasa disebut refleksi - walaupun sebenarnya sama saja dengan tangkisan).
Es dan salju merefleksi hampir kebanyakan dari radiasi solar yang sampai ke permukaan bumi, sedangkan laut, merefleksi sangat sedikit.
4. Radiasi yang sampai ke permukaan bumi yang tidak direfleksi, akan diserap oleh bumi. Di lautan, penyerapan ini sampai pada puluhan meter dari permukaan laut, sedangkan di daratan, hanya pada level yang lebih tipis.
Seperti halnya yang terjadi pada atmosfir, penyerapan radiasi di permukaan bumi menyebabkan naiknya temperatur permukaan tersebut

II.2.peranan matahari terhadap tumbuhan dan organisme berklorofil
Tidak diragukan bahwa tumbuhan dan organisme memegang peran utama dalam menjadikan bumi sebagai tempat yang dapat dihuni. Tumbuhan membersihkan udara untuk kita, menjaga suhu bumi tetap konstan, dan menjaga keseimbangan proporsi gas-gas di atmosfer.
Oksigen yang kita hirup di udara dihasilkan oleh tumbuhan. Bagian penting dari makanan kita juga disediakan oleh tumbuhan. Setiap tahun, seluruh tumbuhan di muka bumi dapat menghasilkan zat-zat atau bahan-bahan sebanyak 200 miliar ton.
Berbeda dari sel manusia dan hewan, sel tumbuhan dan organisme berklorofil dapat memanfaatkan langsung energi matahari. Tumbuhan dan organisme berklorofil mengubah energi matahari menjadi energi kimia dan menyimpannya sebagai nutrisi dengan cara yang sangat khusus. Proses ini disebut "fotosintesis".
Fotosintesis merupakan proses biologi yang dilakukan tanaman dan organisme berklorofil untuk menunjang proses hidupnya yakni dengan memproduksi gula (karbohidrat) pada tumbuhan hijau dengan bantuan energi sinar matahari, yang melalui sel-sel yang ber-respirasi, energi tersebut akan dikonversi menjadi energi ATP sehingga dapat digunakan bagi pertumbuhannya. Reaksi umum dari proses fotosintesis adalah :
6 H2O + 6 CO2 C6H12O6 + 6 O2
Cahaya Proses fotosintesis adalah reaksi yang hanya akan terjadi dengan keberadaan sinar matahari, baik kualitas maupun kuantitasnya. Hasil dari fotosintesis seperti yang sudah tersebut di atas adalah C6H12O6 atau dengan sebutan umum yaitu gula (karbohidrat).
II.3. peranan matahari terhadap keberlangsungan ekosistem. Karbohidrat merupakan jenis molekul yang paling banyak ditemukan di alam. Karbohidrat terbentuk pada proses fotosintesis sehingga merupakan senyawa perantara awal dalam penyatuan karbon dioksida, hidrogen, oksigen, dan energi matahari kedalam bentuk hayati. Pengubahan energi matahari menjadi energi kimia dalam reaksi biomolekul menjadikan karbohidrat sebagai sumber utama energi metabolit untuk organisme hidup.
Dari karbohidrat hasil fotosintesis dalam tanaman inilah yang merupakan dasar dari perkembangan kehidupan makhluk hidup dalam suatu ekosistem yang kemudian masuk pada piramida makanan dan rantai makanan dalam suatu ekosistem yang dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Komunitas dari suatu ekosistem berinteraksi satu sama lain dan juga berinteraksi dengan lingkungan abiotik. Interaksi suatu organisme dengan lingkungannya terjadi untuk kelangsungan hidupnya. Kelangsungan hidup organisme memerlukan energi.
2. Energi untuk kegiatan hidup diperoleh dari bahan organik yang disebut energi kimia. Bahan organik dalam komponen biotik awalnya terbentuk dengan bantuan energi cahaya matahari dan unsur-unsur hara, seperti karbon dan nitrogen.
3. Bahan organik yang mengandung energi dan unsur-unsur kimia ditransfer dari suatu organisme ke organisme lain melalui interaksi makan dan dimakan. Peristiwa makan dan dimakan antar organisme dalam suatu ekosistem membentuk struktur trofik yang terdiri dari tingkat-tingkat trofik dimana setiap tingkat trofik merupakan kumpulan berbagai organisme dengan sumber makanan tertentu.
4. Tingkat trofik pertama adalah kelompok organisme autotrof yaitu organisme yang dapat membuat bahan organik sendiri dengan bantuan cahaya matahari yaitu tumbuhan dan fitoplankton. Organisme autotrof disebut Produsen. Produsen pada ekosistem darat adalah tumbuhan hijau sedangkan pada ekosistem perairan adalah fitoplankton, ganggang dan tumbuhan air.
5. Tingkat trofik kedua dari struktur trofik suatu ekosistem ditempati oleh berbagai organisme yang tidak dapat membuat bahan organik sendiri. Organisme tersebut tergolong organisme heterotrof. Bahan organik diperoleh dengan memakan organisme atau sisa-sisa organisme lain sehingga organisme heterotrof disebut juga konsumen. Pada tingkat trofik kedua dari struktur trofik suatu ekosestem adalah Konsumen primer (herbivora).
II.4.Intensitas Cahaya Matahari.
Cahaya matahari merupakan sumber utama energi bagi kehidupan, tanpa adanya cahaya matahari kehidupan tidak akan ada lagi pertumbuhan tanaman ternyata pengaruh cahaya selain ditentukan oleh kualitasnya ternyata ditentukan intensitasnya (Hari Suseno, 1976).
Intensitas cahaya berpengaruh nyata terhadap sifat morfologi tanaman. Tanaman yang mendapatkan cahaya matahari dengan intensitas yang tinggi menyebabkan lilit batang tumbuh lebih cepat, susunan pembuluh kayu lebih sempurna, internodianya lebih pendek, daun lebih tebal, tetapi ukurannya lebih kecil dibanding dengan tanaman yang terlindung.
Beberapa effek dari cahaya matahari yang penuh (yang melebihi) kebutuhan optimum dapat menyebabkan layu, fotosistesi lambat, laju respirasi meningkat tetapi cenderung mempertinggi daya tahan tanaman. Intensitas cahaya yang tinggi di daerah tropis tidak seluruhnya dapat digunakan oleh tanaman.
Energi cahaya matahari yang digunakan oleh tanaman dalam proses fotosintesis berkisar antar 0,5 – 2,0 % dari jumlah total energi yang tersedia. Sehingga hasil fotosintesis berkurang apabila intensitas cahaya kurang dari batas optimum yang dibutuhkan oleh tanaman, yang tergantung pada jenis tanaman (Leopold & Kriedemann, 1975) hal ini juga berlaku terhadap jenis-jenis anggrek. Pemberian naungan pada tanaman baik secara alami & buatan, akan berarti mengurangi intensitas cahaya yang diterima oleh tanaman tersebut, hal ini akan mempengruhi pertumbuhan maupun hasil tanaman . Tanaman yang kurang
mendapatkan cahaya matahari akan mempunyai akar yang pendek, cahaya matahari penuh menghasilkan akar lebih panjang dan lebih bercabang. Begitu juga diperkuat ole menyatakan bahwa tanaman anggrek yang cukup sinar matahari perakaran akan berkembang lebih baik, jumlah akar akan banyak, ukurannya besar dan banyak bercabang.
Akar keluarnya lebih awal, jadi tidak seberapa jauh dari puncak tanaman jenis anggrek monopodial seperti Vanda, Bila cahaya matahari kurang, karena tanaman anggrek berada dalam keadaan terlalu teduh, maka proses assimilasi akan berkurang, sehingga hidratarang sebagai hasil proses tersebut juga kurang jumlahnya.
II.5.Radiasi matahari untuk pengeringan produk pertanian. Energi surya dapat dimanfaatkan ke dalam dua bentuk yaitu pemanfaatan secara termal dan pemanfaatan untuk listrik. Pada bidang pertanian pemanfaatan energi surya termal biasa digunakan pada proses pengeringan bahan pertanian.
Pengeringan bisa dilakukan secara alami (penjemuran) maupun secara buatan Terdapat berbagai tipe pengering surya yang telah berkembang saat ini, salah satunya adalah pengeringan yang menggunakan kolektor berbentuk bangunan yang disebut dengan efek rumah kaca ERK) yang telah dikembangkan di IPB oleh Kamaruddin dan para kolega penelitinya sejak tahun 1993 sampai saat ini secara (berkesinambungan.
Pada prinsipnya pengeringan efek rumah kaca yaitu sinar matahari yang memiliki radiasi gelombang panjang masuk untuk kemudian diserap oleh absorber atau komponen lain di dalam bangunan pengering sehingga suhu absorber dan komponen tersebut akan meningkat. Radiasi yang dipancarkan oleh absorber/komponen dalam pengering dalam bentuk gelombang panjang sehingg a sulit untuk menembus dinding transparan. Dengan demikian, terjadi peningkatan suhu udara pengering dan udara dihembuskan melalui produk yang akan dikeringkan. Udara yang telah lembab kemudian dikeluarkan dari bangunan pengering.
II.6. Cahaya Matahari Sebagai Sumber Energi. Matahari merupakan sumber utama energi bagi kehidupan. Energi cahaya matahari masuk ke dalam komponen biotik melalui produsen. Oleh produsen, energi cahaya matahari diubah menjadi energi kima Energi kimia mengalir dari produsen ke konsumen dari berbagai tingkat trofik melalui jalur rantai makanan.
Energi kimia yang diperoleh organisme digunakan untuk kegiatan hidupnya sehingga dapat tumbuh dan berkembang. Pertumbuhan dan perkembangan organisme menunjukan energi kimia yang tersimpan dalam organisme tersebut. Jadi, setiap organisme melakukan pemasukan dan penyimpanan energi. Pemasukan dan penyimpanan energi dalam suatu ekosistem disebut sebagai Produktifitas ekosistem. Produktifitas ekosistem terdiri dari produktifitas primer dan produktifitas sekunder.
Semua organisme memerlukan energi untuk pertumbuhan, pemeliharaan, reproduksi, dan pada beberapa spesies,pengaturan energi suatu ekosistem bergantung pada produktivitas primer. Produktifitas primer adalah kecepatan mengubah energi cahaya matahari menjadi energi kimia dalam bentuk bahan organik oleh organisme autotrof. Produktifitas sekunder adalah kecepatan energi kimia mengubah bahan organik menjadi simpanan energi kimia baru oleh organisme heterotrof. Bahan organik yang tersimpan pada organisme atotrof dapat digunakan sebagai makanan bagi organisme heterotrof. Dari makanan tersebut, organisme heterotrof memperoleh energi kimia yang akan digunakan untuk kegiatan kehidupan dan disimpan. Aliran energi dalam ekosistem tersebut sumber utama dan proses pertamanya adalah cahaya matahari. (http://kamaluddin86.blogspot.com/2010/01/peranan-radiasi-matahari-terhadap.html)


















BAB III
METODOLOGI

3.1 BAHAN DAN ALAT
Adapun bahan dan alat yang di pergunakan pada saat proses pengamatan adalah sebagai berikut :
q  Solarimeter dan solarigraf
q  Campbell stokes
q  Pias masing-masing alat
q  Data masing-masing alat
q  data hasil pengukuran dalam satu bulan
q  Alat tulis

3.2 PROSEDUR KERJA
§      Pengenalan Stasiun
q  Memilih stasiun klimatologi. Melihat ukuran stasiun. Mengamati penutup tanah stasun. Setelah itu mengamati tata letak alat-alat di dalam stasiun.
q  Memperhatikan lingkungan disekitar stasiun. mengamati bagaimanan keadaan bangunan, pepohonan, dan penghalang lainnya yang bias mengganggu proser pengmatan berlangsung. setalah itu memperhatikan berapa kira-kira jaraknya.

§      Pengenalan Alat
q  Mengamati setiap alat yang dipergunakan, baik yang di stasiun maupun yang terdapat di laboratorium agroklimat.
q  Mencatat nama-nama alat, sensor, dan bagaimanan cara kerja alat tersebut.

§      Cara Kerja Alat campbell Stokes
q  Memasang alat sambell stokes di tempat yang telah di tentukan oleh Co-Asi ten Memasang alat dengan benar yaitu harus benar-benar terletak horizontal. Kegiatan ini dilakukan dengan mengatur ketinggian setiapa sudut tiang penopang alat yang diatur dengan melihat water-pas yang terpasang.
q  Memasang pias yang sesuai. dengan periode musim setempat. Pias lengkung panjang digunakan ketika panjang hari adalah relatip panjang, Sebaliknya pias lengkung pendek. pias lurus duguakan di saat surya hany memberikan sinarnya dalam jangka waktu harian lebih pendek
q  Menghitung intensitas radiasi dan lama penyinaran surya terekam pada hari pengukuran.
q  Mencatat keadaan kejernihan langit hari itu.
q  Membahas data yang yang diperoleh dengan mempertimbangkan catatan yang telah diamati.
q  Menghitug total energy radiasi selama satu tahun membandingkan jumlah energy radiasi yang diterima di lantai tinggi.

















BAB IV
HASIL PENGAMATAN


Adapun hasil pengamatan yang boleh di lampirkan pada laporan berikut ini adalah mengamati dan memperhatikan berbagai macam alat klimatologi sedang di stasiun manual, disini pengamat akan mengukur lama penyinaran dengan mengunakan Campbell stokes.
Campbell stokes adalah alat untuk mengukur intensitas dan lama penyinaran matahari sesuai denga keterangan pada Bab II. Dengan menggunakan alat ini pengamat mampu mengamati seberapa besar intensitas dan lama penyinaran matahari menyinari permukaan bumi pada saat praktikum berlangsung. Untuk pengamatan penyinaran matahari, dimulai pada pagi hari pada jam 12:00-13:00 WIB. Dari hasil kegiatan tersebut maka diperoleh data hasil peyinaran yaitu, yang terbakar pada kertas ukur intensitas cahaya sebesar 25 menit selama 50 menit sesuai dengan ketentuan yang disepakati. Pembakaran tersebut dapat dikatakan belum sempurna karena hanya sebagian saja yang terbakar pada kertas ukur tersebut. Ketidak sempurnaan tersebut dapat terjadi karena dipengaruhi oleh beberapa factor antara lain :
q  Waktu pengamatan dilakukan pada pagi hari sehingga hasil yang didapat tidak efisien, karena sinar matahari pada saat pagi hari tidak begitu panas karena dipengaruhi oleh kelembapan udara atau lapisan atmosfer masih tertutup embun dan awan.
q  Tidak tersedianya tempat yang memadai yaitu tempat dimana tidak tertutupi oleh bangunan maupun pepohonan yang dapat menutupi penyinaran matahari.
q  Waktu yang digunakan untuk proses pengamatan tidak cukup atau terlalu sedikit waktunya sehingga hasil yang didapat tidak begitu maksimal. 

Kesempurnaan penyinaran matahari jatuh pada tanggal 23 bulan maret dimana posisi matahari berada di atas khatulistiwa dan tidak menutup kemungkinan pada tanggal 25 maret (pada saat praktikum berlangsung) penyinaran matahari masih berada di sekitar khatulistiwa atau tidak jauh dari garis khatulistiwa sehingga penyinaran yang disampaikan matahari ke permukaan bumi cukup lumayan panas pada saat itu sehingga hasil yang diperoleh dapat memadahi walaupun tidak sesuai yang diinginkan sebagaimana diterangkan diatas.

BAB V
PEMBAHASAN


Kegiatan praktikum yang berjudul Radiasi Surya berlangsung di halaman Lep. Ilmu tanah pada hari Rabu tanggal 10 november 2010 pukul 12:00-13:00  WIB, sesuai dengan ketentuan yang telah diterapkan oleh pihak pengelolah praktikum agroklimatologi. Dari hasil pengamata yang telah dilkaukan selama praktikum berlangsung sesuai pada Bab IV, maka penulis mencoba membahasnya pada Bab pembahasan berikut ini.
Intensitas radiasi sangat berpengaruh sekali bagi segala jenis tumbuhan, karena intensitas cahaya membantu pertumbuhan pada setiap tanaman untuk berpoosintesis, memasak zat-zat kimia yang ada pada daun untuk dijadikan menjadi cadangan makanan dan membantu pertumbuhan sel-sel tanaman pada permukaan kulit batang dan daun. Intensitas radiasi merupakan gelombang elektromatik atau gelombang pendek. Perlunya pengamatan radiasi surnya ini dipelajari adalah untuk dapat mengetahui seberapa besar intensitas cahaya matahari jatuh kepermukaan bumi menyinari setiap tumbuhan dan terkhususnya adalah tanaman yang dibudidayakan, karena tidak semua jenis tanaman budidaya tahan terhadap radiasi surya.
Selain intensitas radiasi surya, lamanya penyinaran surya juga mempengaruhi bagi tumbuhan, lama penyinaran adalah seberapa lama radiasi surya menyinari permukaan bumi dalam kurung waktu tertentu. Lama penyinaran disetiap garis lintang tidak lah sama dan pada umumnya di aquator perbedaan panjang hari relatife. Semakin lama intensitas cahaya menyinari permukaan bumi maka akan berdampak terhadap tumbuhan baik berdampak positip yaitu semakin banyak udara O2 di keluarkan oleh tumbuhan disebabkan fotosintesis berkepanjangan dan akan berdampak negatip bagi tumbuhan yaitu kekeringan bagi daun karena lamanya penyinaran memaksa tanaman untuk berpotosintesis hingga kandungan air semakin lama semakin habis sehingga mengkibatkan kekeringan terhadap daun.







BAB VI
PENUTUP

  1. KESIMPULAN

Dari hasil kegiatan praktikum yang berjudul radiasi surya maka penulis dapat menyimpulkan beberapa hasil laporan yang diperoleh, yaitu :
1         Radiasi surya adalah energy matahri yang disampaikan dalam bentuk glombang eloktromatik atau gelombang pendek yang membantu proses fotosintesis tumbuhan.
2         Lama penyinaran adalah seberapa lama intensitas radiasi matahari menynari permukaan bumi dalam kurun waktu tertentu dan merupkan hal terpenting bagi penyinaran pada setiap tumbuhan.
3         Pada praktikum ini peserta praktikum di ajak untuk mengetahui seberapa besar intensitas matahari menyinari permukaan bumi pada saat praktikum melalui alat bentu yaitu Campbell stokes.













DAFTAR PUSATAKA



Nurmuin, S. 2008. Penuntun Praktikum Agroklimatologi. Laboratorium Agroklimatologi. UNIB. Bengkul
          Hoesin, Haslizen. (1983). “Simulasi Matematis Radiasi Matahari di Indonesia”. LFN-LIPI, Bandung. Agustus.
             Hoesin, Haslizen. (2000). “Model Matematis Radiasi Matahari Langit Bening dan Langit Sembarang”. Teknik Industri – Tak Teknik, Universitas ARS Internasional, Bandung, November.
          http://kamaluddin86.blogspot.com/2010/01/peranan-radiasi-matahari-terhadap.html